Google
Web Explore Indonesia

Bahasa Lainnya

English Chinese (Simplified) Chinese (Traditional) Croatian Czech Danish Dutch Finnish French German Greek Hindi Italian Japanese Korean Russian Spanish Swedish Filipino Indonesian

Komentar Terkini

Seven Seas
Venue
IFSS
Elok, Eksentrisitas Keraton Yogyakarta PDF Cetak Email
Oleh : Redaksi Explore Indonesia   
Rabu, 24 Juni 2009 10:39

 

 

Setelah menempuh perjalanan darat selama sekian jam dari ibukota Jakarta, tim E-I bisa menginjakkan kaki di D.I.Yogyakarta—sebuah provinsi yang terkenal akan pesona wisata sejarah dan budayanya. Setarikan nafas paska E-I menginjakkan kaki di sini, taktis langsung terbersit alunan melankolik sebuah lagu yang dibawakan oleh salah satu musisi kesohor Katon Bagaskara berjudul ”Yogyakarta”.

Oleh karenanya, kurang afdhol rasanya jika kita berwisata ke Yogyakarta tidak mengunjungi Keraton Kasultanan Yogyakarta Hadiningkrat. Keraton atau dalam bahasa aslinya disebut Keraton berlokasi di pusat Kota Jogjakarta. Keraton artinya tempat di mana raja dan ratu tinggal, atau dalam kata lain Kadaton yang artinya sama. Dalam pembelajaran budaya Jawa, arti ini punya arti filosofis yang amat dalam. Tidak salah jika objek wisata keraton hingga saat ini masih menjadi tujuan utama wisatawan di Kota Gudeg ini. Terlihat banyaknya pengunjung yang datang dan tidak hanya para wisatawan domestik, para wisman pun juga banyak yang berkunjung. Mereka (wisman) terlihat begitu ceria berwisata  di sini, ada yang mengabadikan perjalanan mereka dengan menggunakan video recorder dan adapula yang berpose di halaman keraton dengan menggunakan digital camera-nya.

Arsitek yang membangun Keraton Yogyakarta sendiri adalah Sultan Hamengku Buwono I sendiri, yang merupakan pendiri Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat. Keahlian beliau di bidang arsitektur sangat dihargai oleh ilmuwan berkebangsaan Belanda Dr. Pigeund dan Dr. Adam yang menganggapnya sebagai "arsitek dari saudara Pakubuwono II Surakarta" dan dibangun ratusan tahun silam. Posisi Keraton Yogyakarta persis menghadap ke arah utara, pada arah poros Utara-Selatan antara Gunung Merapi dan Laut Selatan, dengan halaman depan berupa Alun-Aun (lapangan) Utara yang di masa lalu dipergunakan sebagai tempat mengumpulkan rakyat, latihan perang bagi para prajurit, dan tempat penyelenggaraan upacara adat.

Pada tepi sebelah Selatan Alun-Alun Utara, terdapat serambi depan istana yang disebut Pagelaran. Di tempat inilah Sri Sltan, kerabat istana dan para pejabat pemerintahan keraton menyaksikan latihan para prajurit atau beberapa upacara adat yang diselenggarakan di Alun-Alun Utara. Dahulu, pada tahun 1946-1949 Jogja pernah menjadi ibukota Indonesia sebelum diresmikan menjadi daerah khusus yang sama dengan provinsi melalui undang-undang.

Sejurus paska memasuki gerbang pertama, kita akan melihat beberapa bagian dari wilayah Keraton, salah satunya adalah Pintu Gerbang Donopratopo yang berarti "seseorang yang baik selalu memberikan kepada orang lain dengan sukarela dan mampu menghilangkan hawa nafsu". Gerbang masuk ke bagian dalam Keraton dijaga oleh sepasang gupolo (arca raksasa), salah satunya menggambarkan kejahatan dan yang lain menggambarkan kebaikan. Hal ini berarti "kita harus dapat membedakan, mana yang baik dan mana yang jahat". Setelah kita melewati gerbang ini, akan terlihat lagi beberapa bangunan penting yang di antaranya Bangsal Kencono. Bangsal yang paling luas, tempat Sultan menggelar hajatan dan berbagai acara lainnya. Pernikahan puteri Sultan yang berlangsung tanggal 9 Mei 2008 lampau—juga dilaksanakan di Bangsal Kencono ini. Selain itu kita juga melihat sebuah bangunan yang bernama Gedong Jene, tempat Sultan melaksanakan kegiatan sehari-hari. Di depan Bangsal Kencono terdapat pohon-pohon sawo kecik yang rindang, tempat para abdi dalem duduk di pasir, berteduh sambil menjalankan tugas atau menunggu perintah dari Ngarso Dalem. Berjalan menelusuri lebih dalam lagi tepatnya sebelah timur Bangsal Kencono, dipisahkan oleh halaman luas, terdapat kompleks Kasatriyan. Kasatriyan adalah tempat tinggal para putera Sultan yang belum menikah. Dalam kawasan keraton ini, juga terdapat beberapa museum yang berisi peninggalan-peninggalan sejarah lain. Seperti perlengkapan makan dan minum, kursi Raja, meja tulis Sri Sultan Hamengku Buwono dan masih banyak lagi.

Jelas sudah bahwa di Bumi Nusantara ini, dahulu terdapat puluhan—bahkan mungkin ratusan kerajaan. Salah satunya adalah Keraton Yogyakarta. Peninggalan–eninggalan sejarah ini patut kita angkat dan coba kita dekatkan kembali kepada generasi-generasi saat ini agar mereka tidak melupakan sejarah dan kebudayaan yang telah ada sejak dahulu kala. Mungkin sebagian dari mereka masih ada yang mengenal dan melestarikan kebudayaan Indonesia dan sisanya mungkin sudah terkontaminasi oleh kebudayaan luar. Oleh karena itu, sebelum mereka terperosok lebih dalam lagi. Marilah kita jelaskan kepada mereka kembali, bahwa kebudayaan Indonesia lebih mempunyai nilai plus dari kebudayaan luar.

Ucapan terima kasih kami sampaikan kepada Sdr. Soekarno (teamtouring.web.id) sebagai kontributor E-I yang telah setia menemani tim E-I mengelilingi Kota Jogja. (*)

Sumber teks dan foto : Yosef Ferdyana   

Komentar
Hanya pengguna yang sedang online bisa memberi komentar!

3.20 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

Jajak Pendapat

Pemerintah menetapkan target kunjungan wisatawan asing ke Indonesia pada tahun 2009 ini sebesar 6,5 juta orang. Apakah anda yakin target tersebut tercapai?
 

Beritahu Teman Anda

Beritahu teman anda melalui email tentang website ini.

User Online

Ada 95 tamu online

Gallery Foto

Model-2.jpg.jpg

Jumlah Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini44
JBS
IFSS
Buku PPWI
Copyright © 2008 Explore Indonesia
Best view with: Mozilla Firefox 2.0, IE7