








| Drs. Ali Mufiz, MPA |
|
|
|
| Oleh : Redaksi Explore Indonesia | |||||
| Rabu, 07 Mei 2008 16:30 | |||||
|
![]()
Gubernur Jawa Tengah
“Antara Pendidikan, Industri Kecil, dan Pariwisata” “Saya selalu berusaha keras untuk menjadi manusia yang baik dan bermanfaat.” Itulah pernyataan singkat dan sederhana Bapak Mufiz mengawali wawancara khusus Tim Redaksi Tabloid Explore Indonesia dengan orang nomor satu Jawa Tengah ini, beberapa waktu lalu. Menjadi manusia yang baik tidaklah cukup, lanjut Mufiz yang saat ini menjabat sebagai Gubernur Jawa Tengah menggantikan Mardiyanto yang dipercaya menjadi Menteri Dalam Negeri sejak 28 September 2007, namun yang lebih penting dari itu adalah bahwa kita juga harus bermanfaat selama hidup ini. “Saya senantiasa ingin bermanfaat bagi manusia lain, bagi lingkungan, dan juga bagi Tuhan,” katanya menjelaskan prinsip hidupnya ketika ditanyakan apa filosofi hidup yang dijadikan pegangan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Nama lengkap pria yang saat wawancara di Anjungan Jawa Tengah Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Kamis (3/4) lalu, memiliki nama lengkap Drs. Ali Mufiz, MPA. Sosok yang amat menyukai stelan batik warna kuning gading ini lahir di Jepara pada 21 Juli 1944. Ia dikenal masyarakat umum sebagai seorang akademisi dan politikus Indonesia. Sebelum menjabat Gubernur, ia merupakan Wakil Gubernur mendampingi Mardiyanto. Namun demikian, karir Mufiz lebih banyak bersentuhan dengan dunia pendidikan. Ia adalah dosen Administrasi Negara di almamaternya sendiri yakni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro – Semarang. Menelusuri kilas balik perjalanan pendidikan dan karirnya, lulusan FISIP Universitas Diponegoro (Undip) tahun 1971 ini terbilang sukses baik dalam studi maupun mengerjakan berbagai tugas yang diembankan kepadanya. Ali Mufiz pernah menjabat sebagai Sekretaris Jurusan Administrasi Negara di FISIP Undip selama 4 tahun (1981 – 1984). Selanjutnya, ia dipercaya menjadi Ketua Program Studi Administrasi Negara di tahun 1984 – 1993. Karir dan kemampuan indiviadualnya sebagai pendidik semakin terasah ketika Gubernur yang murah senyum ini berhasil menyabet gelar Master of Public Administration (MPA) dari Southern California University – Amerika Serikat pada tahun 1987. Pengalamannya sebagai seorang pekerja masyarakat juga merambah ke berbagai sector; Mufiz pernah menjabat sebagai Sekretaris Yayasan Badan Wakaf Sultan Agung, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jateng, serta pernah dipercaya menjadi Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdatul Ulama daerah Jawa Tengah. Salah satu persoalan utama yang dihadapi Jawa Tengah adalah kualitas sumber daya manusia (SDM) yang masih belum memadai. Demikian pengantar awal yang diberikan oleh beliau saat pertanyaan menjurus ke masalah kebijakan pemerintah Jawa Tengah dalam mensejahterakan rakyatnya. Berdasarkan kenyataan itulah, maka pendidikan dijadikan program amat penting bagi pemerintahan Ali Mufiz. Tidak tanggung-tanggung, pendidikan berada di urutan nomor 1 dari 3 program kebijakan pokok Pemerintah Daerah Jawa Tengah. Secara umum, sasaran yang ingin dicapai pada bidang pendidikan adalah meningkatkan kemampuan dan profesionalitas kerja dari para generasi muda Jawa Tengah. Oleh sebab itu, orientasi pendidikan di provinsi yang masyarakatnya memiliki sopan santun yang amat tinggi ini adalah membangun dunia pendidikan berbasis ketrampilan kerja. “Implementasinya di lapangan, kita lakukan pembenahan sistim pendidikan di semua jenis dan jenjang pendidikan, semua lini dibenahi’” ujar Mufiz. Program yang sudah berjalan, lanjutnya, dan akan terus dikembangkan mulai dari peningkatan mutu guru melalui pembukaan kesempatan melanjutkan studi hingga ke jenjang Strata-1 atau Diploma-4. Dia percaya bahwa perubahan struktur pendidikan yang menitik beratkan pada penempaan ketrampilan bagi siswa akan melahirkan generasi baru yang handal dan siap tampil sebagai pelaksana pembangunan bangsa. Perubahan ini menurut Mufiz adalah dengan membenahi kebijakan pendidikan di tingkat sekolah menengah melalui penciptaan sekolah-sekolah kejuruan yang menampung lebih banyak siswa. “Saya berharap agar dalam 1 atau 2 tahun ke depan, perbandingan jumlah siswa sekolah kejuruan dan sekolah umum akan berkisar pada angka 60 % Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan 40 % Sekolah Menengah Atas (SMA),” terang Gubernur yang mengaku sangat sibuk karena tidak memiliki wakil gubernur selama dia menjabat saat ini. Selain itu, upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan, pemerintah daerah Jawa Tengah juga mendorong setiap lembaga pendidikan untuk melakukan kerjasama dengan lembaga-lembaga pendidikan di luar negeri. “Terutama kepada sekolah-sekolah yang diproyeksikan sebagai SBI (Sekolah Bertaraf Internasional). Mereka harus memiliki sekolah partner di luar negeri. Kita berharap semua pihak dapat proaktif dalam mengembangkan kerjasama antar sekolah antar negara,” papar Mufiz sambil menginformasikan bahwa dalam waktu dekat ini ada 15 SMA yang akan berkunjung ke Korea dalam rangka realisasi program kerjasama sekolah luar negeri. Ketika memasuki perbincangan di seputar kepariwisataan, Gubernur Ali Mufiz yang menurut khabar angin diminta kesediaannya oleh beberapa partai politik untuk maju menjadi calon gubernur Jawa Tengah pada Pilkada Jateng yang akan berlangsung beberapa bulan mendatang, dengan bersemangat menjelaskan bahwa bidang pariwisata adalah salah satu program kebijakan utama pemerintahnya. “Tiga program kebijakan pokok Pemda Jateng, salah satunya adalah Pariwisata, setelah Pendidikan dan Industri Kecil berbasis eksport,” jelas Gubernur. Pariwisata adalah sektor yang amat penting bagi Jawa Tengah. Sebagai sebuah wilayah yang memiliki sejarah ratusan bahkan ribuan tahun menjadi hunian manusia purba, banyak ditemukan situs-situs dari jaman prasejarah, serta memiliki keindahan alam yang sangat mempesona, pemerintah daerah menjadikan sektor pariwisata sebagai salah satu bidang penghidupan yang digarap dengan sungguh-sungguh dan professional. Program Gubernur Jateng ini cukup beralasan, terutama melihat data kedatangan wisatawan dalam negeri ke wilayah itu mencapai rata-rata 17 juta per tahun. “Kunjungan wisatawan asing ke daerah Jateng tahun lalu baru mencapai sekitar 400 ribu orang. Tahun ini, melalui program Visit Indonesia Year 2008, kita menetapkan target kunjungan wasatawan mancanegara sebesar 1 juta orang,” papar Ali Mufiz. Dengan jumlah pengunjung sebear itu, diharapkan penghasilan masyarakat lokal, terutama di daerah-daerah situs atau tempat-tempat pariwisata alam, akan meningkat. “Wisatawan datang membawa bekal uang untuk dibelanjakan bagi kebutuhan sehari-hari selama berkunjung. Mereka juga umumnya akan membawa pulang buah-tangan atau oleh-oleh untuk kenang-kenangan dari tempat yang dikunjungi itu. Jadi secara langsung atau tidak, akan terjadi proses jual-beli di lokasi-lokasi wisata. Untuk itu, kita benahi semua komponen yang akan menunjang kepariwisataan di daerah Jateng, seperti sarana transportasi, penginapan, pemeliharaan situs, hingga ke peningkatan keamanan lingkungan,” urainya panjang-lebar dengan antusias. Promosi pariwisata juga tidak ketinggalan digencarkan, baik di dalam maupun di luar negeri. Berbagai strategi diterapkan. Salah satunya adalah dengan menerbitkan brosur-brosur, panduan-panduan, dan bahkan buku-buku pariwisata Jawa Tengah dan mengedarkannya ke sebanyak mungkin komunitas, terutama di luar negeri. “Dengan pola pengenalan keadaan alam dan situs bersejarah yang ada di Jateng ke mayarakat internasional, diharapkan orang akan mengenal Jateng dan suatu saat ingin mengunjunginya,” ungkap Gubernur dengan mimik serius. “Kendala-kendala tentu saja ada,” katanya ketika ditanya tentang hambatan yang dirasakan dalam memajukan daerahnya menjadi tujuan pariwisata internasional. Larangan maskapai penerbangan Indonesia, seperti Garuda Indonesia Airways, untuk melayani penerbangan ke negara-negara Eropa merupakan pukulan berat yang berdampak pada menurunnya daya saing pariwisata Jawa Tengah dibandingkan dengan wilayah dengan potensi yang sama di negara-negara lain di Asia. Itulah inti penjelasan Gubernur mengenai persoalan yang dihadapi pemerintahannya dalam meningkatkan arus wisatawan manca negara ke wilayahnya. Namun demikian, Gubernur yang menyukai seni tradisional wayang itu tetap optimis bahwa dunia kepariwisataan di provinsi yang dipimpinnya akan merambat maju. Beliau telah menetapkan beberapa program khusus, antara lain kerjasama antar situs bersejarah dan antar komunitas keagamaan. “Saat ini kita sudah mewujudkan kerjasama Candi Kembar (Sister Temple) antara Candi Borobudur dengan Angkor Watt yang ada di Thailand. Kita juga telah mengadakan wisata religius bersama dengan mengundang para penganut agama Budha dari Thailand dan Vietnam untuk melakukan upacara di Candi Borobudur, dan berbagai program lainnya lagi. Semua itu pada hakekatnya ditujukan untuk meningkatkan kerjasama saling menguntungkan di bidang pariwisata di negara masing-masing,” demikian jelas Ali Mufiz. Menyinggung soal suksesi gubernur Jateng mendatang, Gubernur Ali Mufiz tidak banyak berkomentar. Meskipun ia juga sempat menitipkan pesan agar kiranya masyarakat dapat menggunakan hak pilihnya untuk menentukan masa depan Jateng. Mengenai figur gubernur yang diharapkan, ia dengan gaya diplomat sekaligus tokoh masyarakat mengatakan bahwa hendaknya gubernur yang terpilih nanti adalah sosok yang business friendly dan ngemong terhadap rkayatnya. “Masyarakat membutuhkan pemimpin yang dapat memayungi dan melindungi mereka dari segala persoalan hidup sehari-hari. Oleh karena itu, semoga Jawa Tengah dapat melahirkan pemimpin yang ngemong terhadap rakyatnya pada pemilihan kepala daerah mendatang ini,” kata Gubernur Ali Mufiz. Ketika dimintai kesediaan untuk memberikan pesan-pesan singkat kepada generasi muda Jawa Tengah, dan Indonesia pada umumnya, Mufiz dengan singkat menasehatkan agar kita “belajar seumur hidup”. “Kita ciptakan learning society, suatu komunitas masyarakat yang belajar sepanjang masa, mulai dari lahir hingga menggalkan dunia ini,” katanya. Ia kemudia mengelaborasi seruannya itu dengan mengatakan walaupun sudah tamat sekolah, bukan berarti kita sudah tamat belajar. Sebab di saat kita nanti bekerja, kita pelajari dengan baik segala sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaan itu. Ketika kita berada di masyarakat, kita pelajari bagaimana cara hidup bermasyarakat yang baik. Ketika kita sudah tua, kita juga terus belajar bagaimana menyikapi hari tua itu dengan sempurna. Demikianlah belajar adalah sebuah “never ending process” menurut Bapak yang berterus terang jarang bersama keluarga akhir-akhir ini karena kesibukan dan anak-anaknya sudah besar-besar semuanya. “Ketika bangsa ini sudah menjadi a learning society, maka peningkatan SDM akan terpacu dengan sendirinya. Pesan saya, hendaklah semua kita menjadi pembelajar sepanjang hidup kita,” harapnya menutup perjumpaan siang itu.
Hanya pengguna yang sedang online bisa memberi komentar!
3.20 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
|
Gara-gara lihat tayangannya di wisata...
Tanjung Lesung menurut beberapa orang...
Di bandung juga ada, klo ga salah dis...
Pariwisata memang aset daerah (pereko...
Sudah seharusnya kita mempertahankan ...