








| Plastik Dapat Teruai, Kedepan Bisa Dimakan |
|
|
|
| Oleh : mahar prastowo | |
| Sabtu, 14 Juni 2008 19:26 | |
|
Plastik masih dituding sebagai kemasan yang tidak ramah lingkungan meski diakui paling praktis, fleksibel dalam produksi maupun penggunaannya. Namun kedepan, akan muncul plastik yang selain lebih cepat terurai, yaitu 1-2 tahun, juga ramah lingkungan. Setidaknya ini akan menjawab tantangan bahwa kedepan, plastic tak lagi menjadi biang kerusakan lingkungan. Adalah Dr. Ing. Henky Wibawa, Dewan Pakar Forum Grafika Digital yang juga Direktur Pengembangan Produk Arghakarya Industry, akan menjadi pemakalah dalam seminar tentang packaging, pada EDGE 2008 di Gramedia Expo, Surabaya, 18-21 Juni mendatang. Solusi yang ditawarkan, adalah dengan mengkombinasikan bahan baku yang sudah ada saat ini, yaitu dari bahan tambang minyak fosil, yang dicampurkan kedalamnya zat aditif. Dengan teknologi fotosintesis, meniscayakan terjadinya penguraian oleh alam yaitu dengan bantuan sinar ultraviolet matahari, juga oleh mikroorganisme. Ketika material atau kemasa sudah tidak dipakai dan dibuang, akan hancur tanpa membebani lingkungan. Pada plastik dengan pengembangan teknologi fotosintesis, ini dengan mencampurkan material polymer yang terdiri dari suatu rantai monomer. Karena dicampur dengan aditif kedalam material, ketika bersentuhan dengan alam terutama panas matahari, rantai monomer dalam polymer akan kembali terputus-putus sehingga yang tadinya bersifat padat akan terpecah-pecah. Hal ini memungkinkan terjadinya proses penyerapan air dan tumbuhnya mikro orgamisme seperti jamur yang dalam waktu 1-2 tahun kana menghancurkan plastic ini. Plastik dari Singkong, Mungkinkah? Ketika negara-negara maju mengkonversi BBM fosil dengan biofuel, disinyalir turut memicu krisis pangan dunia. Alasannya, begitu banyak bahan makanan yang terpakai, melebihi kapasitas kebutuhan makan manusia. Bahkan kabarnya setiap satu liter biofuel dihasilkan dari bahan pangan yang seharusnya bisa dimakan satu orang selama setahun! Diminta pendapat tentang materi plastic alternatif dari bahan baku natural, misalnya singkong, menurut Henky Wibawa hal ini masih menjadi tanda tanya. Pasalnya, selain masih lebih mahal dan masih dipertanyakan apakah kriteria sebagai bahan baku kemasan sudah terpenuhi. Kemasan, harus aman dan bisa melindungi produk, bersifat mengawetkan dan lain-lain. Suatu pengandaian tentu boleh saja, mungkin saja suatu ketika bahan baku natural semisal singkong, akan ketemu formulanya dan menjadi pilihan alternatif bahan baku kemasan. Selain pasti lebih ramah lingkungan, kemasan yang praktis dan bisa diterima pencernaan, akan menjadi solusi jangka panjang dan sedikit memberi solusi masalah sampah. Sebagaimana minyak goreng yang kini bisa dicampur plastik, dan sebelumnya juga ada permen susu yang tidak lengket di kertas pembungkus ataupun ditoples karena disalut agar-agar, alih-alih sebagai kemasan agar permen tidak meleleh. Kekhawatiran akan bahaya krisis pangan jika bahan pangan dikembangkan oleh idustri menjadi barang lain, boleh-boleh saja. Tapi perlu diingat, persediaan bahan tambang berupa minyak fosil, jumlahnya terbatas, persediaannya tidak diketahui dengan pasti dan tak terkontrol. Lain halnya jika singkong masuk kedalam agro industri dijadikan materi lain berupa kemasan fleksibel semisal plastik, selain bisa ditanam kembali dalam jumlah sesuai kebutuhan, lebih terkontrol dan mudah dievaluasi persediannya sebagai bahan baku kemasan maupun peruntukan pangan, petani juga akan terpacu untuk terus bercocok tanam. Artinya, kekhawatiran akan krisis pangan, tak perlu dirisaukan. Justru ini akan menjadikan petani semakin makmur. [mahar]
|
Gara-gara lihat tayangannya di wisata...
Tanjung Lesung menurut beberapa orang...
Di bandung juga ada, klo ga salah dis...
Pariwisata memang aset daerah (pereko...
Sudah seharusnya kita mempertahankan ...