








| KEMBANG GOELA: Kembali ke Suasana Kolonial Belanda Tempo Doeloe |
|
|
|
| Oleh : Redaksi Explore Indonesia | |||||||
| Selasa, 13 Mei 2008 16:23 | |||||||
|
![]()
R I J S T T A F E L Apa warisan kolonial Belanda yang masih ada? Bahasa? Bangunan? Kedua ini meski masih ada, tapi tetap nyaris punah. Dan sederet warisan lainnya salah satunya RIJSTTAFEL. Kalau dibuka kamus, dari kata RIJST, bisa disimpulkan bahwa yang menjadi pusat hidangan adalah NASI. Jadi jamuan makan besar yang lengkap, dan dilakukan di siang hingga sore hari. Meneer Belanda kalangan atas, seperti pejabat pemerintah, tuan-tuan tanah, kepala-kepala perkebunan (gula, tembakau, kopi, teh, dll) sering mengadakan acara makan siang di tempat-tempat teretentu, seperti “SOCIETEIT” (kamar ballroom), atau juga di hotel-hotel mewah. Orang Belanda ini, khususnya di kota-kota besar di Pulau Jawa, begitu terpikat oleh kemewahan aneka makanan Indonesia. Maka mereka selalu menginginkan pertemuan makan siang dengan menu Nasi dengan Lauk Pauknya. Acara makan siang ini boleh dibilang cukup mewah. Tidak hanya tempat, tapi juga PIRANTI makan, yang memakai gaya ala Belanda komplit; Sendok, Pisau dan Garpu. BIR menjadi minuman utama. Sedangkan hidangannya, dimulai dengan SAJIAN PEMBUKA, biasanya jenis sop-sopan, kroket, dan salad. Sementara SAJIAN UTAMA keluar berikutnya, dimulai dengan NASI dan semacamnya (Nasi Kuning atau Nasi Gurih), yang kemudian diikuti oleh Serundeng Kacang, Acar Kuning, Sambal Goreng Tempe Kering,, dan sederet menu lainnya, yang merupakan makanan rumahan; Sate Daging Manis, Ayam Besengek, Sayur Lodeh, Perkedel Cabai Besar, Semur Ayam, Empal, dll. SAJIAN PENUTUP, berupa Kue Jajanan Pasar; Kue Jongkong atau Poding Coklat dengan Saus Vanilla. Banyaknya jumlah menu makanan yang disajikan, memperlihatkan Kekayaan dan Prestise seseorang yang menjamu. Namun yang spesifik dan terkesan mewah dari pertemuan ini adalah dari cara menyajikannya. Makanan tersebut disajikan ke tamu oleh barisan pramusaji yang keluar dari dapur. Masing-masing pramusaji bertanggungjawab atas satu piring lauk. Para pramusaji ini disebut JONGOS (pelayan). Cara sajian seperti inilah kemudian dikenal dengan RIJSTTAFEL. RIJSTTAFEL memang sudah tidak lazim lagi. Maka KEMBANG GOELA ingin menghidupkan kembali suasana kuliner ‘tempo dulu’, tetnu dengan lebih menyempurnakan cara penyajian dan yang pasti tetap menjaga sita rasa serta kualitas makanan.
KEMBANG GOELA Ingin menghadirkan satu kenikmatan akan cita rasa makanan dan cara menghidangkan ala ‘TEMPO DOELOE’. Ini kira-kira satu niat yang ada pada IBU LILI M ADMODIRDJO, bersama saudara dan sahabatnya, ketika membuka resto KEMBANG GOELA; keinginan untuk membagi sebuah kenikmatan rasa makanan TEMPO DOELOE dan NOSTALGIA. Seperti ada satu mainan tersendiri bagi para Ibu-ibu ini. Sebab ketika 2 resto terdahulu; WAROENG KITA dan MERADELIMA berjalan dengan baik, ada panggilan lagi untuk membuat sesuatu yang baru lagi dan lagi…. Tentu tetap di jalur menu-menu Indonesia tempo dulu. Maka, atas kesepakatan bersama, RIJSTTAFEL menjadi pilihan untuk bentuk sajian yang akan ditampilkan. Namun juga tidak menutup keumngkinan tersedia juga pesanan dengan ALA CARTE. Menu-menu yang ditawarkan, sedikit banyak menu asli yang memang dinikmati para “Inlander”, ketika mereka menikmati RIJSTTAFFEL doeloe; seperti Semur, Sayur Lodeh, Ikan Acar Kuning, Oseng-Oseng Tempe, dll, disamping puluhan menu masakan lainnya. Tidak hanya appetizer dan main menu, dessert yang ditawarkan pun cukup membangkitkan selera. Ada Tape Bakar, Pisang Gencet, Popertjes, Cremebulle. Sementara Squash Markisa, coctail Benderaku, Es Parahyangan, Es Jangan DItanya, Es Peyempuan,menjadi sebagian dari daftar minuman yang ditawarkan, dan menarik perhatian. Interior KEMBANG GOELA hasil pemikiran AGAM RIYADI dengan disain colonial modern minimalis, terasa nyaman. Meski tidak terlalu kental, namun benda-benda antik yang ada, mampu mengantar kita ke masa doeloe. Memuaskan lidah dan perut dengan makanan lezat, menjadi suatu aktivitas wajib yang dilakukan sebagian besar masyarakat kita… Ditambah lagi suasana tempat makan cukup mendukung, kenikmatan menjadi semakin pas. KEMBANG GOELA buka dari pukul 11.00 am – 11.00 pm, setiap hari.
Hanya pengguna yang sedang online bisa memberi komentar!
3.20 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
|
Gara-gara lihat tayangannya di wisata...
Tanjung Lesung menurut beberapa orang...
Di bandung juga ada, klo ga salah dis...
Pariwisata memang aset daerah (pereko...
Sudah seharusnya kita mempertahankan ...