Tempurung Batok Kelapa Cindera Mata Yang Naik Tahta

Anda ingin memiliki usaha namun masih bimbang menetukan usaha seperti apa? Jika ya, cobalah untuk membuka usaha kerajinan berbahan kayu tempurung kelapa. Pasalnya, usaha ini masih banyak diminati. Terutama oleh wisatawan asing. Siapa tahu, usaha Anda akan mampu menembus pasar international.
Siapa sangka dengan bermodalkan limbah tempurung yang dimodifikasi dengan tali pandan dan pelepah pisang, menjadikan produk yang satu ini bernilai seni dan semakin banyak diminati. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika aneka barang kerajinan berbahan baku tempurung kelapa muda kerap ditemui disetiap pusat perbelanjaan di daerah kota wisata. Sebut saja Jogjakarta, Bali, dan Lombok. Dikedua kota ini, kerajinan tempurung kelapa banya dijajakan untuk dijadikan buah tangan. Mulai dari aksesoris perempuan seperti jepitan, bingkai foto, hingga perabotan rumah tangga layaknya sendok dan mangkuk.
Meskipun beberapa waktu lalu kondisi pariwisata Indonesia sempat carut marut, namun ternyata tidak berdampak pada minat konsumen untuk membeli produk yang terbilang unik ini. Meskipun pesanan datang dalam jumlah sedikit, namun tidak pernah berhenti. Apalagi, produk ini juga banyak yang dipasarkan melalui internet. Dengan begitu, banyak peminat, khususnya konsumen asing, yang mengorder produk ini lewat internet.
Seperti yang dilansirkan dari salah satu situs berita, Wayan Sukanata, seorang pengusaha kerajinan tempurung kelapa di Bali mengungkapkan “Kami tetap berproduksi untuk memenuhi permintaan konsumen luar negeri, walaupun wisatawan mancanegara berkurang ke Bali”.
Senada dengan Wayan, Fathur Rahman, perajin tempurung kelapa daerah Mataram mengungkapkan meskipun pesanan datang dalam jumlah yang minim, namun ia tetap memproduksi. Sebab, ujarnya, tujuan awal dirinya membuat sesuatu yang menarik perhatian konsumen telah berhasil ia dapatkan.
Selain mendapatkan order dari pemilik hotel lokal, pengusaha dalam negeri, konsumen Fathur Rahman juga turis mancanegara yang memiliki art shop di Negara asalnya. Misalnya, Jepang, Belanda, Amerika Serikat dan Perancis. Bahkan dirinya sempat meminta dibuatkan 1.000 kancing baju-celana dari batok kelapa, yang dijual Rahman Rp 500-Rp 750 per buah.
Soal harga memang sangat sensitif. Dimuali ratusan rupiah hingga jutaan rupiah. Namun, mengingat barang yang didapatkan merupakan produk berkualitas dengan seni yang tinggi, urusan harga memang bukan jadi masalah lagi.
Agar produk kerajinan ini lebih menarik, tentu diperlukan ide-ide yang kreatif. Dengan begitu dapat menghasilkan cinderamata yang memiliki nilai jual yang tinggi. Namun, adanya serat dari tempurung kelapa harus ditonjolkan. Karena diseratlah melekat nilai seni yang kuat daripada usaha ini, selain bentuk-bentuk unik yang anda buat. Seperti yang diungkapkan salah seorang perajin, Anto. Ia mengungkapkan bahwa, agar hasil yang didapatkan maksimal, serat tempurung kelapa harus ditonjolkan. Setelah itu, proses pengamplasan yang harus dilakukan beberapa kali. Agar hasilnya terlihat lebih “cling”, dilanjutkan dengan tahap akhir dimana cinderamata tersebut menggunakan lilin.
Bahan-bahan dibutuhkan pun mudah untuk didapatkan, seperti lem kayu, tangkel (batok kelapa), dempul, melamin, amplas dan cat. Selain itu texwood juga dibutuhkan yang dijadikan rangka kerajinan seperti produk meja dan lemari kecil yang bagian luarnya ditempeli tangkel.
Jadi bagaimana pendapat anda tentang usaha ini? Jika jawabanya ‘ya’ siapkan diri anda untuk memikirkan ide-ide kreatif agar tempurung yang anda buat mampu menarik minat para konsumen.
| Komentar |
|
3.20 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev |
|---|



















