Thursday, Sep 09th

Last update01:56:39 AM GMT

You are here: Industri Rumahan > Berawal dari Tukang Tahu Keliling

Berawal dari Tukang Tahu Keliling

Email Cetak PDF

Berbahan baku dari kacang kedelai, tahu merupakan salah satu lauk pauk yang amat banyak diminati oleh setiap orang dari berbagai kalangan. Tidak hanya di warung-warung sederhana saja, restaurant besar pun banyak disediakan menu makanan yang berbahan baku tahu, atau paling tidak didalamnya terdapat campuaran tahu. Sebut saja beberapa contoh mulai dari Tahu Goreng, Tumis Tahu Rasa Ayam, hingga Tahu Makaroni California. Dengan berbagai strategi, para juru masak dan penjual makanan tahu mengolah menunya dengan baik untuk menjadi makanan favorit yang tidak kalah “gengsi” dengan menu makannan lainnya. Seperti cerita seluk beluk “per-tahu-an” yang menjadi sajian kolom “Explore Kuliner” edisi ini, mulai dari bagaimana cara pembuatan tahu hingga kepada keuntungan dari menjual tahu. Usaha tahu yang menjadi sorotan Explore Indonesia kali ini berlokasi di Otista Raya, tepatnya di Gang Tanjung Lengkong, Jakarta Timur.

Sebagai pemilik perusahaan pembuatan tahu, H. Ayo Sunaryo dahulu adalah penjaja tahu keliling sejak tahun 1973. Kini, berkat kegigihannya mencari nafkah dengan menjual tahu, ia berhasil memiliki perusahaan pembuatan tahu. Meniti “karir” sebagai pembuat tahu sendiri, suami dari Hj, Icih ini memulai pekerjaannya sejak tahun 1981 silam. Dengan modal yang dikumpulkan semenjak menjadi pedagang tahu keliling, Sunaryo, demikian ia sering disapa, mencoba meningkatkan penghidupanya dengan membuat tahu hasil karyanya sendiri. Alhasil..! hingga saat ini sang penjaja tahu ini masih menjalankan perusahaan tersebut dan bisa terbang ke Tanah Suci Mekah (berangkat haji) serta bisa menghidupi seluruh keluarganya. Sebagai pembuat tahu, ia tidak mengambil keuntungan terlalu tinggi atas penjualan tahu-nya walaupun saat ini harga bahan baku pembuat tahu melonjak naik.

Dalam menjalankan usahanya, ayah 7 orang anak ini, amat memperhatikan kualitas hasil produksi tahu yang baik dengan cita rasa yang enak. Secara garis besar, pria asal Tasikmalaya ini menuturkan proses pembuatan tahu sebagai berikut. Awalnya, kacang kedelai direndam hingga mekar; setelah mekar kedelai dicuci hingga bersih kemudian digiling hingga seperti bubur kedelai. Hasil gilingan kedelai direbus dengan menggunakan kuali (penggorengan besar) berdimeter 120 cm hingga bubur kedelai matang, untuk selanjutnya disaring menggunakan kain kasa yang cukup lebar. Setelah menjalani proses penyaringan, hasil saringan bubur kedelai ditempatkan di sebuah wadah mirip ember yang terbuat dari kayu jati. Bubur kedelai tersebut diberi bibit, yakni larutan air asam untuk membekukannya. Bubur kedelai yang sudah diberi bibit tersebut langsung dituang ke dalam cetakan tahu yang mempunyai ukuran kurang-lebih 40 x 60 cm yang juga terbuat dari kayu jati. Setelah diisi bubur kedelai, permukaan kotak kayu ini ditutup kain kasa, kemudian ditimpakan dengan batu besar di atasnya dengan tujuan agar air larutan keluar, dan bubur mejadi padat dan mengeras. Proses pemadatan dengan menindiskan batu di atas bubur tahun ini dilakukan sebanyak 2 kali. Maka jadilah satu kotak tahu besar yang kemudian dipotong-potong dengan ukuran 4 x 5 cm dan siap dipasarkan.

Memang beberapa waktu lalu sempat gencar sebuah isu yang memberitakan bawa tahu berbahan pengawet. Namun, hal ini tidak menurunkan omset penjualan tahu dari kakek 5 cucu ini. Menurut Sunaryo, tahu buatannya tidak memakai bahan pengawet apapun, dan berdasarkan fakta di lapangan, konsumen tahu buatannya tetap berlangganan dan menikmati tahu hasil produksi Bapak paruh baya ini. Walaupun keuntungan yang didapat tidak besar, yang terpenting baginya adalah bahwa ia mendapatkan penghasilan dengan cara halal, tanpa harus melakukan hal-hal yang tidak wajar apalagi sampai bisa membuat orang sakit. Karena tidak hanya orang lain, keluarganya pun mengkonsumsi tahu-tahu buatannya itu.

Kini di perusahaan pembuatan tahu tersebut H. Ayo Sunaryo mempekerjakan 4 orang karyawan termasuk anak dan juga dirinya. Selagi masih kuat bekerja dan dalam kondisi sehat, ia selalu ikut terjun langsung dalam pembuatan tahu. Hingga saat ini, wilayah pemasaran tahu-tahu buatan Sunaryo masih terbatas di seputaran Jakarta. Walau begitu, dirinya puas dengan hasil jerih payahnya yang telah digeluti selama 27 tahun.

Komentar
Hanya pengguna yang sedang online bisa memberi komentar!

3.20 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."