Google
Web Explore Indonesia

Bahasa Lainnya

English Chinese (Simplified) Chinese (Traditional) Croatian Czech Danish Dutch Finnish French German Greek Hindi Italian Japanese Korean Russian Spanish Swedish Filipino Indonesian

Komentar Terkini

Seven Seas
Venue
IFSS
LEBIH DEKAT DENGAN NIAS SELATAN: Keindahan yang Terabaikan PDF Cetak Email
Oleh : Redaksi Explore Indonesia   
Rabu, 22 April 2009 15:44


 

Nias Selatan adalah salah satu kabupaten di Sumatra Utara yang terletak di pulau Nias. Nias Selatan (Nisel) sebelumnya adalah bagian Kabupaten Nias dengan status otonom diperoleh pada 25 Februari 2003 dan diresmikan pada 28 Juli 2003. Kabupaten ini beribukota di Teluk Dalam, terdiri dari 104 gugusan pulau besar dan kecil, yang masyarakatnya  tersebar di 21 pulau dalam delapan kecamatan.

Ini adalah kali yang kedua saya menginjakkan kaki di Tano Niha (Tanah Nias). Untuk mencapai kota Teluk Dalam, dalam perjalanan pertama dimulai dari Kota Padang Sumatera Barat. Dengan menggunakan travel dengan perjalanan darat membutuhkan waktu 12 jam untuk sampai di Sibolga. Dari kota pantai Sibolga dengan perjalanan laut menggunakan kapal feri berjarak tempuh 12 jam untuk sampai di Gunung Sitoli. Kebetulan cuaca sedang bagus sehingga dengan selamat sampai di Gunung Sitoli, satu-satunya kota terbesar di pulau Nias.

Jika cuaca ditengah laut ombaknya besar maka feri tidak berani melanjutkan perjalanan dan kembali ke Sibolga. Itu sedikit perbincangan kami dengan para penumpang yang mempunyai tujuan sama. Dari Sibolga di Pulau Sumatera, biasanya ada 2 buah feri yang melayani bolak-balik ke Nias sehari sekali, yaitu KM Barau dan KM Belanak. Jadi, kalau hari ini feri itu menuju Nias, keesokan harinya feri yang sama menuju Sibolga. Dari Gunung Sitoli dengan menyewa kendaraan penulis beserta tim menempuh perjalanan darat yang cukup melelahkan dengan medan berat sekitar 4 jam untuk sampai di kota Teluk Dalam. Keterpencilan Nias terlihat jelas dari realitas bahwa lautan yang memisahkan Nias dengan Pulau Sumatera adalah lautan dalam. Nias adalah bagian Sumut yang "terpencil" karena tidak sembarang kapal bisa mengarungi samudra. Ditambah lagi dermaga di Gunung Sitoli sedang diperbaiki sehingga hanya kapal kecil yang dapat berlabuh.

Perjalanan kedua jauh lebih nyaman, karena ditempuh melewati kota Medan Sumatera Utara. Dengan pesawat fokker-50, tim berangkat dari bandara Polonia dan menempuh perjalanan sekitar 1 jam untuk  sampai di Bandara Binaka yang terletak sekitar 20 kilometer di selatan Gunung Sitoli. Ini merupakan bandara satu-satunya di Nias dengan kondisi yang agak terbengkalai karena tidak terawat sebagaimana mestinya. Sedikitnya penerbangan yang masuk ke sana akhirnya membuat minimnya dana untuk perawatan bandara kecil itu. Dengan panjang landasan pacu sekitar 1,5 kilometer, hanya pesawat jenis cassa, cesna, dan fokker yang dapat mendarat. Pascagempa menyisakan retakan di landasan pacu sepanjang 150 meter. Jumlah penerbangan yang menuju Binaka dari Medan dan sebaliknya, ada 3 maskapai dengan penerbangan 2 kali sehari. Dari Bandara Binaka kita bisa menyewa kendaraan atau travel untuk perjalanan darat sekitar 4 jam ke Teluk Dalam.

Sarana transportasi darat di Nias pun merupakan mimpi buruk bagi wisatawan yang tidak suka petualang. Sangat beruntung kalau Anda bisa menempuh perjalanan Gunung Sitoli-Teluk Dalam, yang jaraknya sekitar 120 kilometer, dalam empat jam. Kondisi jalan di sana buruk dan kalaupun diperbaiki, biasanya hal itu hanya bertahan untuk waktu yang singkat, selanjutnya akan rusak kembali. Tanah di Nias labil sehingga jalan yang baru diperbaiki hanya akan berumur pendek.

Keterbatasan sarana dan prasarana transportasi dan komunikasi tidak hanya antara kabupaten dan tetangga di sekitarnya, tetapi juga terjadi antarkecamatan dalam kabupaten. Sinyal telepon seluler hanya operator tertentu yang beroperasi dan hanya di kota Teluk Dalam yang dapat menerima sinyal, masuk pedalaman sedikit sudah blank. Bila menelusuri daerah pedalaman, tidak jarang terlihat jembatan dalam kondisi rusak. Untuk sampai seberang jembatan, perlu nyali untuk petualang. Butuh waktu berjam-jam, untuk bisa menginjakkan kaki di Teluk Dalam.

Di bidang pariwisata, potensi wisata kabupaten Nisel sebenarnya cukup menjanjikan terutama dengan pantainya yang indah. Sorake, salah satu pantai di daerah itu, akrab di telinga penggemar olahraga selancar, karena mempunyai ombak yang cukup tinggi. Turnamen selancar tingklat dunia beberapa kali diadakan di pantai itu. Terdapat juga andalan wisata lainnya yaitu Pantai Lagundri yang berpasir putih, terletak disebuat laguna yang bersebelahan dengan pantai Sorake. Pantai ini berjarak sekitar 13 km selatan kota Teluk Dalam. Di Kecamatan Pulau-pulau Batu terdapat lokasi menyelam, terumbu karang, serta ikan- ikan hias dan pantai berpasir putih. Ada juga peninggalan zaman megalitik berupa batu-batu megalit di Kecamatan Lahusa dan Gomo. Selain itu juga terdapat peninggalan cagar budaya yang masih dipu yaitu permukiman desa adat di Bawomataluo yang terletak dipedalaman dan berada di puncak bukit. Kompleks rumah adat Nias di Desa Bawamataluo lengkap dengan daya tarik berupa masih aslinya kehidupan masyarakat di sana dengan berbagai tradisi diantaranya dalah Hombo Batu atau yang dikenal dengan Lompat Batu.

Beberapa kali telah diadakan lomba berselancar tingkat internasional di Pantai Sorake, tetapi lokasi ini belum tertata dengan rapi. Sepanjang pantai Lagundri dan Pantai Sorake berjajar home stay yang siap melayani dan membuai wisatawan yang ingin menikmati keindahan pantai, dengan tarif yang cukup murah sekelas penginapan melati. Sampai saat ini kalau kita naik feri dari Sibolga menuju Gunung Sitoli atau naik pesawat dari Polonia ke Binaka, kita akan menjumpai banyak sekali turis berkulit putih. Mereka adalah penggemar olahraga selancar yang akan datang ke Pantai Sorake dan menikmati keindahan pantai pasir putih di Lagundri. Tempat surfing dan selancar yang disebut paling baik kedua setelah Hawaii adalah Pantai Sorake dan Lagundri.

Menurut Harison Sagoto, pemuda setempat, ombak di pantai Sorake bisa mencapai ketinggian 15 m karena langsung berhadapan dengan Samudera Indonesia. Ombak di Sorake ini konon memang sangat ideal untuk olahraga air berselancar. Ombak di pantai ini punya lima tingkatan. Tidak ada tempat lain di dunia yang punya ombak seperti itu. Jadi, kalau peselancar gagal main slalom di sana, mereka masih bisa melanjutkan atraksi dengan gaya lain di tiap ombak berikutnya. Gagal lagi, masih ada tiga jenis ombak menanti sehingga permainan selancar wisatawan menjadi lebih panjang. Akibat olahraga selancar pula, di kedua pantai ini tumbuh aneka penginapan dan kafe. Kedua pantai itu seakan Kuta atau Legian keduanya Indonesia.

Namun, kenyataan menunjukkan pantai Lagundri dan Sorake hanya ramai saat ada kejuaraan internasional selancar, yang biasanya jatuh pada bulan Juni - Juli, saat ombak sedang besar-besarnya. Di luar itu, kedua pantai tersebut adalah pantai indah yang sepi dan sunyi, demikian ratapan seorang pengusaha home stay di Lagundri bernama Milyar Wau.

Pantai-pantai indah inipun pada hari libur terutama hari Sabtu dan Minggu selalu sedsak ramai tua muda kyang mandi, renang atau sekedar jalan-jalan menikmati keindahan laut untuk sekedar refresing menghabiskan waktu liburan bagi masyarakat sekitar kota Teluk Dalam dan sekitarnya.Wisata murah meriah ini menjadi satu-satunya pilihan rekreasi warga.

Untuk menjaring wisatawan, di pantai Sorake telah dibangun Hotel berbintang bernama Sorake Beach Resort yang diresmikan pada 20 Juli 1994, oleh Raja Inal Siregar Gubernur Sumatera Barat saat itu. Karena itu, Hotel Sorake ini sungguh direncanakan dan dibangun dengan bagus, berlantai marmer dan aneka perabotnya sekelas dengan yang ada di hotel berbintang empat. Untuk yang ingin merasakan tidur di bangunan rumah adat Nisel, dibuat juga cottage yang mengambil model rumah tradisional Nisel.

Nisel sangat potensial dalam segi wisata, namun terabaikan karena lupa membangun sarana dan prasarana terutama transportasi yang memadai. Selancar, surfing, atau sekadar bertelanjang dada menikmati sinar mentari di pantai-pantai menjadi gambaran yang lekat begitu kata "Nias" disebut. Bayangan indahnya pulau yang termasuk wilayah Provinsi Sumatera Utara ini pun menyeruak. Lautnya yang jernih, berlapis warna hijau bening dan biru memukau, pasir putih, dan nyiur pepohonan kelapa. Terselip tetapi tak kalah menarik, yaitu pesona tinggalan budaya megalitik dan juga rumah-rumah adat ramah lingkungan serta berbagai hasil karya masyarakat Nias yang telah berumur ratusan tahun.

Selain desa adat Bawomataluo sebenarnya ada beberapa permukiman adat yang dapat menjadi andalan wisata Nisel, seperti desa adat Botohilitano yang banyak terdapat batu megalitik yang dilengkapi dengan ukiran dan patung bermotifkan hewan dan tumbuhan. Desa adat Orahili yang merupakan cikal bakal berdirinya Bawomataluo juga masih indah dengan deretan rumah adat yang saling berhadap-hadapan yang kelihatan menawan jika dilihat dari desa Bawomataluo karena berada di bawahnya. Desa adat Hilinawa Mazinge yang mempunyai rumah adat besar atau sering disebut Omo Sebuo yang merupakan rumah pemimpin adat dan rumah bangsawan yang tertua di Nias. Menurut sebuah buku yang tim baca di rumah besar Hilinawa Mazinge, rumah tersebut masuk dalam daftar 10 rumah tertua di dunia.

Untuk mencapai desa adat Hilinawa Mazinge perlu perjuangan ekstra keras dan siap untuk berpetualang. Tim pernah mempunyai pengalaman menarik dengan bermodalkan pemandu pemuda setempat yang juga belum pernah kesana dan sedikit informasi, nekat mengunjungi Hilinawa Mazinge. Ternyata kita harus mengusuri 3 buah sungai yang tidak ada jembatannya sehingga harus basah kuyup untuk menyeberang dan dengan dibantu penduduk sekitar untuk menyeberangkan kendaraan roda dua yang kita pakai, akibatnya banyak HP dan kamera yang terendam belum lagi saat itu baru saja habis hujan lebat sehingga air sungai meluap.

Dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Sumatera Utara, Nias bisa dibilang tertinggal dalam nyaris segala hal. Mungkin ada yang beranggapan bahwa Pemerintah "mengabaikan" Nias. Namun, ada realitas lain yang tidak boleh diabaikan kemungkinannya, yaitu akibat posisi dan keadaan geografisnya sendiri. Sebenarnya Nias sangat potensial untuk bisa menjadi daerah tujuan wisata dan mempunyai alam yang indah. Begitu banyak potensi siap utuk membuai wisatawan dan diharapkan mampu membuka sejuta peluang pengembangan ekonomi bagi warga Nisel, tetapi kenyataannya ternyata jauh dari panggang. Untuk menelusuri Nisel dan menikmati potensinya yang tersebar di pulau itu membutuhkan nyali dengan berbagai kesulitan yang akan ditemui. (Sukawi, Dosen Arsitektur dan Tim P5 UNDIP)

Komentar
Hanya pengguna yang sedang online bisa memberi komentar!

3.20 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

Jajak Pendapat

Pemerintah menetapkan target kunjungan wisatawan asing ke Indonesia pada tahun 2009 ini sebesar 6,5 juta orang. Apakah anda yakin target tersebut tercapai?
 

Beritahu Teman Anda

Beritahu teman anda melalui email tentang website ini.

User Online

Ada 96 tamu online

Gallery Foto

selancar.jpg.jpg

Jumlah Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini44
JBS
IFSS
Buku PPWI
Copyright © 2008 Explore Indonesia
Best view with: Mozilla Firefox 2.0, IE7