WAYANG GOLEK: Melestarikan Nilai Leluhur sambil Mengembangkan Bisnis

Karena begitu banyaknya peminat wayang golek, para pengrajin seni rupa ini pun mulai banyak dan tersebar di banyak daerah di Indonesia, seperti di Pulau Jawa, Bali, Sumatera, dan Kalimantan.
Entang Sutisna, salah satu pengrajin yang hampir 38 tahun menggeluti usaha ini dan menjadi salah satu pembuat wayang golek paling lama. Awalnya, ayah 4 anak ini bekerja di salah satu institusi militer, Korem, sekitar tahun 1970. Sebagai staf administrasi di kantor Korem dimaksud, dan mengandalkan gaji yang tidak seberapa menurut pengakuan Entang, tentu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Oleh karena itu, berbekal keahlian dan hobinya yang gemar menggambar, Entang mencoba untuk mencari penghasilan sampingan. Jadilah ia memulai membuat wayang golek dari bahan-bahan kayu yang mudah didapatkan di sekitar tempat tinggalnya, dan menjualnya kepada orang-orang yang berminat. Usaha kecil-kecilan itu akhirnya berbuah sukses walau harus dalam rentang waktu berpuluh tahun. Keyakinan dan kegigihannyalah yang dapat membawa Entang Sutisna bisa seperti sekarang, mampu menyekolahkan keempat anaknya serta mencukupi kebutuhan keluarganya.
Kunjungan Presiden Kedua Republik Indonesia
Seperti juga pengalaman banyak orang, Entang juga tidak langsung sukses dalam menjalani usahanya. Dengan menyalurkan hobinya didukung oleh kemampuan kreativitas yang cukup tinggi, ia mampu membuat beberapa karakter wayang golek yang amat disukai oleh wisatawan, baik domestik maupun mancanegara. Di awal tahun 1970-an dulu itu, pria kelahiran Bogor ini biasa menjual hasil karyanya di pinggiran Kebun Raya Bogor selama kurang lebih 2 tahun.
Pada tahun 1972, keberkahan berpihak pada Entang. Kala itu almarhum mantan Presiden Soeharto beserta almarumah Ibu Tien berkesempatan mengunjungi rumahnya dan memesan wayang golek sebanyak 120 wayang. Saat itu, suami Lis Rosmanah itu menjual wayang hasil karyanya dengan Rp. 1.000,- per buah kepada almarhum mantan presiden, dimana pada tahun itu uang Rp. 1.000,- bisa ditukarkan dengan 70 liter beras. Dengan demikian, total uang yang didapatkannya waktu itu adalah Rp. 120.000,- sebuah jumlah yang cukup besar dan memberikan prospek usaha ke masa depan. Sejak saat itu, Entang Sutisna akhirnya memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dan fokus untuk membuat wayang golek.
Pembeli lebih banyak turis asing
Usaha pembuatan wayang golek Entang semakin maju, terutama oleh dukungan seluruh anggota keluarganya. Keahlian menghasilkan wayang yang baik dan berkualitaspun diajarkan dan diwariskan kepada keempat anaknya. Tidak hanya itu, strategi bisnis dan pemasaran juga digarap dengan baik oleh Entang sekeluarga. Bahkan beberapa waktu kemudian, anak pertamanya yang bernama Enday mampu membantu sang ayah memasarkan hasil karya ayahnya hingga merambah pangsa luar negeri. Kebanyakan pembeli dari wayang buatan pak Entang adalah turis asing.
Melalui jalinan kerjasama dengan guiders (pemandu wisata) berkebangsaan asing, membuat Enday harus belajar beberapa bahasa asing, seperti bahasa Inggris, Belanda dan bahasa Jerman, terutama disebabkan oleh jumlah pelanggan asing terbesar adalah dari daratan Eropa. Meski kebanyakan pembelinya adalah orang bule, namun hingga kini pak Entang belum pernah melakukan ekspor.
Menurut penuturan Entang, para turis asing itu yang sering datang datang berkunjung ke tempat workshopnya untuk melihat dan membeli wayang goleknya. Jika kemudian ada yang memesan dalam jumlah besar, ia biasanya mengirim melalui paket pos dengan memberikan fasilitas garansi penggantian wayang baru apabila terjadi kerusakan produk saat pengiriman. Kisaran harga produk wayang pak Entang cukup variatif. Untuk ukuran standar, pak Entang menjual kepada turis asing dipatok harga sebesar 30 Euro dan kepada pembeli lokal sebesar Rp. 250.000. Adapun harga untuk wayang golek ukuran besar Rp. 500.000,- sedangkan untuk hiasan dinding Rp. 150.000.
Bahan baku dan cara membuat wayang golek
Bahan yang digunakan untuk membuat wayang golek menggunakan Kayu Lame. Menurut pak Entang Kayu Lame lebih tahan lama dan tidak rengat/pecah karena telah teruji. Sebelum dibentuk, beliau menggambar terlebih dahulu karakter apa yang akan dibuat dan diteruskan dengan mengukirnya secara teliti. Setelah itu, wayangnya dicat dan terakhir diberi pemanis dengan dibuatkan pakaian wayangnya serta diberi hiasan berupa mute-mute kecil.
Melihat kilasan perjalanan usaha pak Entang ini, mengembangkan usaha berbasis seni budaya tradisional leluhur bangsa Indonesia dengan menghasilkan hasil karya yang dapat menghasilkan uang, terbesit satu harapan besar akan kelestarian seni wayang golek. Tradisi bangsa berkesenian wayang senyatanya telah menjadi sumber penghidupan pak Entang dan keluarganya, serta beratus bahkan mungkin beribu pak Entang lainnya, pengrajin wayang golek di tanah air.
Melalui pengembangan karya ini juga, kita dapat berharap banyak bahwa nilai-nilai luhur dari wayang golek sendiri akan tetap lestari tumbuh berkembang di masyarakat Indonesia, dari generasi ke generasi berikutnya. Bahkan lebih jauh, kreativitas berkarya sambil berbisnis wayang golek akan membawa nama harum Tanah Air tercinta ini hingga pelosok dunia. Faktanya, konsumen wayang golek kebanyakan dari wisatawan asing, yang menurut pak Entang workshopnya biasanya dikunjungi turis asing hingga mencapai jumlah 300 orang setiap bulan, berarti seni tradisional wayang golek Indonesia semakin tenar di manca negara. Ini juga berarti, pak Entang dan kawan-kawan pengrajin aneka seni budaya leluhur bangsa telah berpartisipasi membantu Pemerintah dalam program Visit Indonesia Year 2008. (Teks & Foto Yosef Ferdyana)
| Komentar |
|
3.20 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|




















