








| GUNUNG LANANG: Pusat Semedi Pembawa Berkah |
|
|
|
| Oleh : Redaksi Explore Indonesia | |||||||
| Selasa, 02 Desember 2008 12:22 | |||||||
|
![]() Gunung..! Pasti yang terbayang adalah sebuah gundukan tanah dengan ketinggian lebih dari 500 meter di atas permukaan laut. Pemandangan indah, hawanya yang sejuk serta dikelilingi pohon-pohon yang begitu lebat. Akan tetapi, gunung yang terletak di desa Dusun Bayeman, Kabupaten Kulonprogo, kurang lebih 45 km ke arah barat dari pusat kota Yogyakarta ini berupa gumuk pasir yang berada di antara hamparan pasir pantai dan ditumbuhi pohon-pohon khas tanah tandus yang menjulang. Pepohonan di bukit yang memiliki luas sekitar 500 meter persegi ini tertata rapi mengelilinginya. Di sebelah selatan dari puncak gunung gumuk pasir ini, tampak Laut Kidul (demikian orang Jawa menamai Samudra Hindia) yang birunya membentang seolah tanpa ujung dari timur ke barat.Gunung tersebut bernama ”Gunung Lanang”. Nama yang aneh ya... Mengapa dinamakan Gunung Lanang? Nama “Lanang” dalam bahasa Jawa berarti “laki-laki”. Pasalnya, dulu kala petilasan (lokasi) ini dulunya tempat pertapa seorang bangsawan laki-laki dari Mataram Kuna. Sebab itu, gunung yang lebih cocok disebut bukit keramat ini diberi nama Gunung Lanang. Situs ini ternyata memiliki banyak sebutan. Gunung Lanang dikenal juga sebagai Astana Jingga atau Badraloka Mandira. Astana Jingga berarti tempat tinggal Kang Amurwa Jagad yang memancarkan sinar kuning kemerahan, sedangkan Badaraloka Mandira artinya bangunan terbuat dari batu bata yang memancarkan sinar keagungan (badra) Kang Amurwa Jagad. Kedua nama ini diberikan lantaran tuah yang dimiliki gunung itu, yaitu dianggap dapat mendatangkan keberkahan atau sebuah wangsit. Gunung Lanang sejak lama hingga kini dijadikan tempat melakukan kegiatan spiritual dan budaya Jawa seperti; Ruwatan Agung Tumapaking Laku Suci pada setiap malam 1 Suro. Sebelum melakukan acara ritual dan spiritual, terlebih dahulu harus sesuci lahir bathin. Sesuci dilakukan dengan air sumur Tirto Kencono, kemudian melakukan persiapan batin di Sasana Jiwo dengan memanjatkan doa atau melantunkan kidung pambuko dengan tujuan supaya selama acara ritual senantiasa dalam kuasa dan atas kehendak-Nya. Selanjutnya di Sasana Sukma Sasana Indra (puser/pusat Gunung Lanang) dengan sikap pasrah dan dengan jiwa terarah pada kebesaran Yang Maha Kuasa melakukan puncak semedi di alam keheningan. Prosesi akhir, para pesemedi kembali ke Sasana Jiwo untuk melakukan doa atau melakukan kidung penutup sebagai ucapan rasa syukur telah diijinkan melakukan acara spiritual di tempat tersebut. Biasanya pada saat acara ruwatan massal diselenggarakan pula pertunjukkan wayang kulit semalam suntuk. Ternyata, para peserta dari ritual ini tidak hanya diikuti oleh penduduk se-Yogyakarta saja. Diyakini dapat mendatangkan keberkahan, banyak para peserta ritual berasal dari kota-kota besar di Indonesia seperti; Jakarta, Bandung, Semarang, Solo dan Surabaya. Mereka berharap tuah dari petilasan di Gunung Lanang ini jatuh ke tangan mereka. Lebih dari itu, di petilasan ini juga terdapat sumur yang airnya diyakini dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. (teks: Yosef; foto: http://gununglanang.multiply.com)
Hanya pengguna yang sedang online bisa memberi komentar!
3.20 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
|
Gara-gara lihat tayangannya di wisata...
Tanjung Lesung menurut beberapa orang...
Di bandung juga ada, klo ga salah dis...
Pariwisata memang aset daerah (pereko...
Sudah seharusnya kita mempertahankan ...