Google
Web Explore Indonesia

Bahasa Lainnya

English Chinese (Simplified) Chinese (Traditional) Croatian Czech Danish Dutch Finnish French German Greek Hindi Italian Japanese Korean Russian Spanish Swedish Filipino Indonesian

Komentar Terkini

IFSS
Seven Seas
Venue
UPACARA KABASARAN DI WATU PINAWETENGAN: Ritual Magis Menaklukan Persoalan yang Menghimpit PDF Cetak Email
Oleh : Fredy Tewu   
Selasa, 09 September 2008 15:53

 


Iring-iringan pasukan berkuda lengkap dengan segala peralatan perang seperti tombak besi, pedang tebal panjang (kolabrasi samurai dan peda – pedangnya orang Minahasa), dan terompet (sebagai alat perintah/penanda). Juga tidak ketinggalan dibawa serta berbagai simbol-simbol ilmu gaib antara lain tengkorak kain merah, mulut burung taon (burung alo) dan bendera yang menghiasi pakaian pimpinan para pasukan Kabasaran dari sembilan etnis Minahasa.

Barisan pasukan tersebut memasuki arena pelaksanaan ritual adat Minahasa di kawasan megalith Watu Pinawetengan dan Watu Tumotowa desa Pinabetengan, Tompaso Kabupaten Minahasa. Mereka akan melakukan “pembersihan” dari semua yang jelek di lokasi tempat pelaksanaan ritual tahunan ini.

Sementara itu tokoh-tokoh adat Minahasa berdiri sejajar menghadap Watu Pinawetengan. Salah satu pimpinan upacara ritual adat Minahasa berucap-ucap dengan lantang menggunakan bahasa makatana, memohon kepada yang empunya langit dan bumi (empung wailan) agar sekirannya merestui berlangsungnya upacara adat Minahasa yang sedang dilaksanakan itu. Ketika Explore Indonesia turut menyaksikan ritual tersebut, suasana magis bahkan sudah tampak terasa sejak saat memasuki desa wisata Pinabetengan, suatu desa megalith 50 kilometer arah selatan dari Kota Manado.

Nuansa “pembersihan dari semua yang jelek” kental terasa ketika menyaksikan para penari perang Kabasaran. Mereka tampil dengan wajah penuh amarah, kejam, beringas. Tokoh yang keras dan juga kokoh seakan takkan terkalahkan terpancar dari wajah mereka yang menggambarkan perlawanan, tidak mau ditindas atau dianiaya, melakukan pembelaan dan mempertahankan eksistensinya. Gerakan-gerakan badan, ayunan pedang, dan tusukan tombak, semuanya merefleksikan puncak kemarahan dari para penari Kabasaran itu. Hingga tiba pada tahapan akhir pertempuran yang menandakan semua yang jelek telah pergi, terusir tiada berdaya, kalah atau menyerah.

Uniknya, upacara ritual adat kali ini selain dihadiri oleh sejumlah Tou (orang penting) Minahasa yang menjabat di birokrasi pemerintahan, juga terlihat sejumlah pengusaha dan tokoh nasional. Di antara mereka nampak Benny Mamoto, Benny Tengker, DR. Bert Supit, Syenny Watoelangkow, dan Tommy Turangan SH, yang saat ini disebut Tonaas (yang dituakan, yang diteladani). Kesemuannya diwakilkan dalam setiap etnis Minahasa. Ritual yang digelar pada bulan Juli 2008 lalu itu menarik perhatian bukan hanya penduduk dan masyarakat di sana akan tetapi juga disaksikan oleh beberapa wisatwan dan tokoh masyarakat asal Minahasa di rantau.

‘Barisan sejajar’ Tonaas ini diarak dan ‘dihantar’ oleh seorang tokoh adat Walian menuju alam Toar Lumimuut untuk memohon petunjuk  introspeksi diri terhadap diri mereka, rakyat mereka, bawahan mereka dan keluarga mereka. Banyak petuah disampikan oleh Walian dan ada yang diikuti oleh para Tonaas-tonaas. Salah satu petuah yang di minta kepada Toar Lumimuut adalah agar “bangsa minahasa” selalu hidup tentram, teratur, penuh persaudaraan sejati rukun dan damai.

Kai makagena-genangen

Karia un penginaleyen

Kai Mawuri en mahali

Mahali un keketa rondor

Demikian sepenggal syair lagu berbahasa Tounsea Minahasa. Banyak kalangan berpendapat bahwa ritual adat Minahasa seperti yang dilakukan di Watu Pinawetengan – Watu Tumotowa ini perlu dilestarikan. Hal ini dapat dijadikan landasan motivasi, spirit dan perlawanan penindasan terhadap orang Minahasa atas berbagai persoalan kekinian, antara lain kebodohan dan kemiskinan. Satu hal lagi yang amat menarik yakni dari sisi seninya sebagai obyek wisata budaya yang menggambarkan keragaman warna sosial di tanah Toar Lumimuut. Semua ini diharapkan menjadi bagian dari branding strategic, yakni pola “menjual sisi lain” obyek pariwisata yang unik dan menarik di Sulawesi Utara di tahun-tahun mendatang. (Fredy Tewu)

Komentar
Hanya pengguna yang sedang online bisa memberi komentar!

3.20 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

Jajak Pendapat

Pemerintah menetapkan target kunjungan wisatawan asing ke Indonesia pada tahun 2009 ini sebesar 6,5 juta orang. Apakah anda yakin target tersebut tercapai?
 

Beritahu Teman Anda

Beritahu teman anda melalui email tentang website ini.

User Online

Ada 97 tamu online

Gallery Foto

Bengkulu 01.jpg.jpg

Jumlah Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini45
JBS
IFSS
Buku PPWI
Copyright © 2008 Explore Indonesia
Best view with: Mozilla Firefox 2.0, IE7