Google
Web Explore Indonesia

Bahasa Lainnya

English Chinese (Simplified) Chinese (Traditional) Croatian Czech Danish Dutch Finnish French German Greek Hindi Italian Japanese Korean Russian Spanish Swedish Filipino Indonesian

Komentar Terkini

IFSS
Seven Seas
Venue
Topeng Monyet, Atraksi Kesenian Tradisional Yang Terlindas Modernisasi PDF Cetak Email
Oleh : Hilda Perbatasari   
Rabu, 11 Juni 2008 17:27

 

 


 

"Tung Tang Ting Tung, Tung Tang Ting Tung, Tung Tang Ting Tung,” suara musik gamelan mengiringi atraksi topeng monyet yang di gelar di pelataran sebuah rumah. Dengan lincahnya sang monyet meliuk-liuk beratraksi mengikuti instruksi sang pawang yang mendampinginya. Atraksi yang disajikan adalah monyet pergi ke pasar, tentara maju perang, pembalap motor, polisi lalulintas, tarian reog dan bersepeda keliling kota. Pawang menabuh gamelannya dengan irama monoton menciptakan suara yang mungkin sudah sangat dimengerti oleh sang monyet. Dengan setia sang monyet melakukan instruksi sang pawang dan membuat decak kagum anak-anak yang menyaksikannya. Semua sesi dilakukan dengan baik.

Monyet yang menjadi pemeran utama dalam atraksi ini telah terlatih sebelum melakukan atraksi. Pelatihan ini bisa memakan waktu 6 hingga 8 bulan tergantung tingkat kecerdasan sang monyet. Ciri-ciri monyet ini adalah memiliki ukuran badan yang kecil dengan warna abu-abu pada bulunya dan berekor panjang. Setiap atraksinya selalu diiringi gamelan dan gendang dari pawangnya. Tak jarang hewan lain pun ikut melengkapi atraksi ini seperti ular dan anjing.

Topeng monyet adalah kesenian tradisional yang sudah sejak dahulu dikenal di Indonesia, terutama di daerah Jawa Tengah dan Jawa Barat. Pertunjukan topeng monyet juga dapat dijumpai di Negara asia lainnya seperti India, Pakistan, Thailand, Vietnam, China, Jepang dan Korea. Jenis kesenian ini melibatkan seorang pawang yang telah memberikan pelatihan pada monyetnya untuk melakukan berbagai aktivitas meniru tingkah laku manusia. Monyet yang digunakan biasanya adalah spesies Cebus Capucinus. Jenis ini dipilih karena perangainya yang tidak begitu ganas dan lebih mudah untuk dilatih melakukan pertunjukan. Disebut permainan topeng monyet karena apabila sedang atraksi, sang monyet menggunakan topeng, helm dan reog mungil sesuai peran yang akan dimainkan.

Pelaku kesenian topeng monyet pada umumnya berjalan berkeliling berhari-hari dari tempat yang satu ketempat yang lain di daerah kawasan permukiman padat penduduk. Alat musik diperdendangkan untuk menarik perhatian anak-anak agar hadir menyaksikan dan memberikan uang ala kadarnya. Penonton topeng monyet ini kebanyakan anak-anak. Oleh karena itu kedatangan rombongan topeng monyet selalu disambut gembira oleh anak-anak. Kegembiraan anak-anak ini menjadi rezeki bagi rombongan topeng monyet. Uang saweran dari warga merupakan sumber nafkah mereka menghidupi keluarga.

Semakin pesat dan canggihnya perkembangan modernisasi saat ini telah membuat hiburan permainan tradisional klasik pada era tahun 80-an ini semakin tenggelam ditelan zaman. Modernitas membuat hiburan tradisional terlindas dengan kecanggihan teknologi permainan yang berkembang. Komunitas anak-anak saat ini lebih menggemari permainan play station atau pun aneka permainan yang Time Zone suguhkan ketimbang menyaksikan atraksi topeng monyet. Era digital membuat banyak hal berevolusi mengikuti perkembangan zaman. Era permainan mobil dengan remote control bukan lagi merupakan hal yang langka dibandingkan menyaksikan atraksi topeng monyet.

Teknologi dan evolusi zaman telah menggeser keberadaan topeng monyet ini dalam keterpurukan. Semakin kurangnya minat anak-anak untuk menyaksikan atraksi topeng monyet, semakin membuat atraksi tradisional ini tersisihkan. Pada era tahun 80-an atraksi ini sangat terkenal dan dapat dimainkan berkali-kali dalam sehari, namun pada era millennium saat ini bahkan banyak anak-anak yang tidak mengenal apa itu atraksi topeng monyet. Mereka hanya mendengar melalui cerita tentang permainan topeng monyet dari orang tuanya saja.

Penghasilan sang pawang topeng monyet pun tidak menentu dalam sehari. Tarif untuk sekali pertunjukkan adalah Rp. 5000 hingga Rp. 15.000. Segelintir pencinta binantang pernah melakukan protes terhadap atraksi ini, karena dianggap telah mengeksploitasi sang monyet dan memisahkan mereka dengan habitatnya. Salah satu hal yang kontroversial antara atraksi tradisional warisan budaya dan perlindungan satwa oleh para pecinta binatang. Namun dibalik kontrovesial tersebut, bagi segelintir orang atraksi topeng monyet merupakan kenangan masa kecil yang tidak pernah terlupakan dari ingatan.

Komentar
Hanya pengguna yang sedang online bisa memberi komentar!

3.20 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

Jajak Pendapat

Pemerintah menetapkan target kunjungan wisatawan asing ke Indonesia pada tahun 2009 ini sebesar 6,5 juta orang. Apakah anda yakin target tersebut tercapai?
 

Beritahu Teman Anda

Beritahu teman anda melalui email tentang website ini.

User Online

Ada 97 tamu online

Gallery Foto

selancar.jpg.jpg

Jumlah Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari Ini45
JBS
IFSS
Buku PPWI
Copyright © 2008 Explore Indonesia
Best view with: Mozilla Firefox 2.0, IE7