Menyusuri Eksotisme Sumatera Barat (bagian 2)
Tulisan ini adalah bagian ke-2 dari rangkaian tiga tulisan yang bercerita tentang eksotisme Sumatra Barat, hasil penuturan reporter Explore Indonesia, Hilda Perbatasari, yang sempat mencicipi indahnya negeri ”Bareh Solok” itu beberapa waktu lalu.
Pesona Danau Singkarak
Danau Singkarak berada di dua kabupaten di Sumatera Barat, Kabupaten Solok dan Kabupaten Tanah Datar. Dengan luas 107, 8 km danau ini merupakan hulu Batang Ombilin. Letaknya hanya berjarak sekitar 40 Km dari Bukittinggi. Danau yang terletak pada ketinggian 36,5 meter dari permukaan laut ini merupakan habitat dari spesies ikan Bilih yang hanya hidup di danau ini saja. Yang menjadi keunikan dari ikan ini adalah tidak dapat dibudidayakan di luar habitatnya. Ikan Bilih (Mystacoleucus padangensis) merupakan spesies ikan yang diperkirakan hanya hidup di danau ini, dan menjadi salah satu makanan khas Sumatera Barat.
Di tempat wisata ini Anda dapat melakukan aktivitas bersampan hingga ke tengah danau dengan menggunakan sampan sewaan. Airnya yang bening dan sejuk menambahkan keasrian danau nan menawan ini. Bunyi riak-riak air danau yang menghempas ke pasir di pinggiran, juga menambah suasana menjadi syahdu. Tak jauh dari areal danau terdapat sebuah tempat peristirahatan Biteh Kacang, tepatnya yaitu di pinggiran Danau Singkarak.
Danau Singkarak juga dikenal sebagai tempat yang cukup menjanjikan sebagai daerah wisata memancing. Hal ini dibuktikan dengan ramainya kawasan di seputaran Danau Singkarak dengan para pemancing yang berasal dari kota sekitar danau maupun dari luar Propinsi Sumatera Barat. Diantara jenis ikan-ikan yang umum dipancing yaitu asang, piyek, balingka, baung, dan ikan yang menjadi legenda Sasau, yang konon dapat mencapai ukuran berat hingga 8 Kg. Aktivitas lainnya yang dapat dilakukan adalah olah raga dayung. Lomba Dayung kerap diselenggarakan di Danau Singkarak, dan merupakan salah satu program pemerintah daerah setempat untuk mempromosikan tempat wisata danau Singkarak.
Danau Kembar, Perpaduan Keajaiban Alam dan Agrowisata
Meningkatnya aktivitas Gunung Talang yang mempunyai ketinggian sekitar 2.597 meter di Kabupaten Solok, Sumatera Barat, beberapa waktu lalu tidak menyurutkan minat masyarakat untuk berwisata ke kawasan danau kembar, yaitu Danau Diateh dengan luas 1.720 hektar dan Danau Dibawah dengan luas 1.680 hektar. Bahkan, pesonannya semakin bersinar dengan indah akibat pengaruh dari aktivitas vulkanik gunung tersebut. Danau ini mendapat julukan sebagai danau kembar karena di samping luasnya hampir sama, letak danaunya pun sangat berdekatan yaitu terletak berdampingan dengan jarak sekitar 300 meter. Namun uniknya danau yang letaknya lebih tinggi tersebut justru disebut Danau Dibawah. Danau yang kontradiktif dengan lokasinya ini sering membuat pengunjung bertanya, kenapa danau yang terletak di atas bukit dinamakan Danau Dibawah, sedangkan yang berada di bawah bukit atau di bawah jalan dinamakan Danau Diatas. Itu karena meski terletak di atas bukit, ketinggian permukaan air Danau Dibawah sama tingginya dengan dasar danau Danau Diatas.
Danau Diatas dengan luas 17,20 meter persegi, panjang 6,25 km dan lebar 2,75 km, permukaan airnya berada pada ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut (m dpl). Danau ini cukup dangkal, dengan bagian terdalam hanya 44 meter. Sedangkan permukaan air Danau Dibawah berada pada ketinggian 1.566 mdpl. Artinya, permukaan airnya sama tinggi dengan dasar air Danau Diatas. Namun, danau yang memiliki luas 16.90 meter persegi, panjang 5,62 km dan lebar 3,00 km ini sangat dalam, yaitu 886 meter. Biasanya pengunjung memilih pergi ke Danau Diatas lebih dulu dengan karcis masuk Rp1.500 untuk anak-anak dan Rp 2.000 untuk dewasa.
Untuk mencapai kawasan ini sangat mudah. Dari Kota Padang kita bisa naik bus antarkota dalam provinsi menuju Alahan Panjang atau Muaralabuh dengan ongkos yang terjangkau antara Rp. 20.000 hingga Rp. 30.000. Berjarak sekitar 60 km akan ditempuh selama 1,5 jam dengan vegetasi alam yang berkelok-kelok. Hamparan perkebunan teh PT Perkebunan Nusantara VI Kebun Danau Kembar menjadikan bingkai lukisan pelengkap pesona alam Sumatera Barat.
Menyusuri sepanjang perjalanan dari Padang ke Simpang Lubuak Selasiah, panorama alam yang natural dan menyatu dengan alam menjadi suguhan yang tidak henti-hentinya. Anda akan menikmati pesona jalan yang berkelok-kelok, mendaki dan menurun. Sepanjang kanan perjalanan adalah bukit nan hijau, sedangkan di sisi lainnya jurang yang curam menjadikan kultur alam yang menyerupai sempurna.
Danau Talang berada sekitar 4,5 km dari kedua danau ini. Lokasinya yang berada di pinggang Gunung Talang dan jauh dari jalan raya membuat danau ini tidak tersohor sebagai objek wisata seperti halnya danau kembar. Ditambah lagi dengan aktivitas gunung Talang yang semakin aktiv, membuat kawasan wisata ini terlarang bagi wisatawan. Danau Talang luasnya 1,30 km per segi dengan panjang 1,5 km dan lebar 88 m. Di Danau Talang udara terasa lebih dingin dan suasananya pun lebih sunyi.
Pemkab Solok sedang mengembangkan kawasan wisata Danau Kembar yang memiliki tiga danau ini menjadi kawasan wisata agro di mana pengunjung bisa menikmati danau sambil menikmati pemandangan hamparan kebun sayur-mayur, buah-buahan, dan perkebunan teh. Perkebunan teh milik PT Perkebunan Nusantara VI sendiri yang hanya berjarak sekitar 15 km dari Danau Kembar juga menjadi lokasi agrowisata. Di sini tersedia guest house, lapangan tenis, lapangan bola, home stay, dan jalur jalan kaki di tengah hamparan kebun teh yang terletak di lereng Gunung Talang.
Maninjau, Lukisan Danau di Atas Awan
Lembayung senja hampir menyelimuti semesta ketika kaki berpijak di areal danau Maninjau, Sumatera Barat. Udara sejuk yang menerpa serta lukisan awan yang berpadu dengan silau riak-riak air danau menyambut kendaraan yang kami tumpangi. Sebuah ungkapan selamat datang dari alam yang sangat menyentuh, sesekali gerombolan monyet menghampiri untuk mengais sedikit kacang yang pengunjung lemparkan dari jendela kendaraan.
Tidak pernah terbayangkan dalam angan betapa menakjubkan dan mengagumkannya pesona alam bumi Ranah Minang ketika pertama kali berniat melancong ke provinsi Sumatera Barat. Setiap tempat yang dikunjungi selalu menampilkan keajaiban alamnya yang membuat jiwa tercengang dan terkagum-kagum menyaksikannya. Siapa tak mengenal danau Maninjau? Danau terbesar ke dua di Sumatera Barat yang kerap mendapatkan julukan danau di atas awan, karena riak-riak air danaunya memantulkan kabut fatamorgana dan mengesankan gumpalan asap putih seperti berlayar di atas awan.
Legenda Danau Maninjau
Danau Maninjau terletak di kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, provinsi Sumatera Barat, dengan jarak sekitar 35 kilometer dari Bukittinggi. Maninjau yang merupakan danau vulkanik ini berada pada ketinggian 461 meter di atas permukaan laut dengan luas sekitar 99 km² dan memiliki kedalaman maksimum kurang lebih 495 meter. Awal terbentuknya cekungan ini konon akibat letusan gunung yang bernama Gunung Sitinjau.
Menurut legenda di Ranah Minang, keberadaan danau Maninjau berkaitan erat dengan kisah Bujang Sembilan. Dimana dalam legenda Bujang Sembilan ini dikisahkan tentang sebuah keluarga yang memiliki 10 orang anak dan 9 orang daiantaranya adalah putera (bujang) dan seorang puteri bernama Sani. Paras Sani yang sangat elok menjadi daya pikat tersendiri bagi pemuda bernama Sigiran yang kemudian menjalin asmara. Namun entah bagaimana datang lah tuduhan dari bujang sembilan bahwa selama menjalin asmara mereka melakukan perbuatan amoral. Tuduhan itu disangkal oleh ke dua insan, dan mereka membuktikannya dengan terjun ke kawah gunung Tinjau sebagai sumpah atas pembuktian. Dalam sumpahnya mereka menyatakan manakala terbukti salah, maka gunung Tinjau akan meletus dan menenggelamkan kampung itu. Ternyata Gunung Tinjau tidaklah meletus, akan tetapi kawah semakin lama bertambah besar hingga akhirnya menjadi sebuah danau, sedangkan bujang sembilan dikutuk menjadi ikan yang konon menurut cerita masyarakat setempat hingga saat ini masih hidup dan diwaktu tertentu menampakkan dirinya ke permukaan danau. Legenda yang sangat menarik walaupun sulit untuk mempercayai keabsahannya.
Siapa pun yang berkunjung ke danau Maninjau pasti akan terkesima dengan kelok 44 nya atau dikenal dengan kelok ampek ampek. Sepanjang kurang lebih 10 KM dimulai dari Ambun Pagi sampai ke Maninjau. Jalan yang berkelok-kelok membuat kepala sedikit pening namun segera terobati oleh hamparan permadani alam sepanjang perjalanan. Bagaikan jamrud hijau yang menyelimuti bumi pertiwi ini. Kendaraan pun berjalan sangat hati-hati meliuk di sela-sela jurang dan bukit serta rawa-rawa yang luas dan rimbun. Sesekali tampak dari kejauhan wajah danau Maninjau di sela relief alam jajaran bukit Barisan. Sepanjang jalur tak hentinya jiwa ini terkesima dan kagum dengan lukisan alam anugerah Ilahi. Sungguh elok alam negeri ini, sehingga sulit untuk mengungkapkannya dalam kata-kata. Tak terhitung berapa kelokan tajam yang telah dilalui, namun kelokan yang paling tajam adalah kelok sembilan dengan lengkungan sangat tajam.
Setelah berkendaraan selama hampir 1 jam dan menempuh puluhan kelokan yang terjal, akhirnya kami pun menjejakkan kaki di pintu gerbang danau di atas awan ini. Rasa pening yang tadi sempat terasa seketika hilang tergantikan oleh decak kagum akan keelokan danau Maninjau. Rancak bana itulah kata yang sempat saya pelajari di ranah minang untuk mengekspresikan sesuatu yang indah. Riak-riak air yang bergemericik, hamparan pohon rimbun yang membentang, udara pegunungan yang sejuk dan segar menembus pori-pori kulit, kicau burung yang kerap terdengar dan sesekali seekor elang terbang melintas membelah langit, menjadi awal relaksasi yang cukup menyegarkan dan membawa jiwa melayang dalam kedamaian. Therapy rejuvenation yang tidak memerlukan konsep apapun selain hanya diam terpaku menikmati kontur alam sekeliling yang mempesona.
Sarana Wisata di Danau Maninjau
Bila merasa berkunjung saja belumlah cukup, di lokasi wisata ini banyak terdapat penginapan lokal dengan fasilitas yang memadai dan ala kadarnya. Namun adapula hotel bintang tiga yang letaknya tidak jauh dari danau dan dapat langsung menikmati eksotisme danau Maninjau. Harganya berkisar antara Rp.200.000 per malam hingga Rp.400.000 per malam dan masih terjangkau untuk kantong para pelancong yang datang berkunjung. Sepanjang danau ini pun banyak terdapat restoran dan coffee shop untuk melengkapi kenikmatan wisatawan yang bertandang. Paduan pegunungan hijau, kabut tipis serta riak danau menambah suasana semakin syahdu dan tenteram sambil minum secangkir coklat panas. Bertandang ke Maninjau tidaklah lengkap tanpa mencicipi pensi ataupun urai pensi yang terkenal dari maninjau. Urai pensi makanan khas nagari maninjau terkenal lezat untuk digulai ataupun digoreng bersanding dengan Palai Rinuak yang telah siap saji sebagai penambah selara makan. Ciri khas makanan yang bisa dibawa sebagai oleh-oleh dari danau Maninjau, yakni ikan rinuak. (Hilda Perbatasari)
| Komentar |
|
3.20 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|




















