Menyusuri Eksotisme Sumatera Barat (bagian 1)

Kecantikan Ranah Minang di Sumatera Barat memang terkenal tidak hanya di Indonesia, akan tetapi hingga ke mancanegara. Wisatawan yang datang berkunjung selalu berdecak kagum dengan lukisan alamnya yang menakjubkan dan pesona budayanya yang memikat. Indahnya alam pegunungan berpadu dengan bukit-bukit dan gunung-gunung berapi menjulang tinggi dengan warna biru yang klasik, serta hamparan riak-riak danaunya yang membentuk barisan fatamorgana menjadikan Sumatera Barat sebagai salah satu negeri jamrud khatulistiwa Indonesia. Sungai- sungainya yang membentang dari kaki pegunungan hingga ke hilir, mengalir berkelok-kelok dengan arusnya yang deras membangkitkan jiwa petualang bagi pencinta alam.
Ditambah lagi dengan hamparan sawahnya yang hijau dan kuning ibarat lautan emas bagi nagari Serambi Mekah ini. Sungguh cantik dan elok melebihi keindahan dan kelembutan permadani yang dipintal di negeri Persia sekalipun. “Kampuang dari Ateh Langik”, begitulah orang setempat menjulukinya.
Menyusuri Alam Minangkabau memang tidak dapat diselesaikan sehari dua hari. Bagi penikmat keindahan alam yang senang berwisata sambil berpetualang, alam Sumatra Barat yang hampir seluruhnya masih asri dan terjaga alami oleh masyarakat ”Urang Minang” ini adalah tempat yang tiada khan pernah usai menjejakinya. Juga menceritakannya seakan tiada berujung, tak habis-habisnya. Berikut, rangkaian cerita indah dan mengasyikan tentang berpetualang di Ranah Minang yang diturunkan dalam 2 bagian tulisan secara berseri.
Potret Air Terjun Lembah Anai
Letak geografis Sumatera Barat yang berada dalam posisi patahan Sumangko, ternyata memiliki potensi sumber daya alam yang sangat mengagumkan. Salah satu dari pesona alami yang terkenal dan menjadi maskot pariwisata di Sumatera Barat adalah Air Terjun Lembah Anai. Orang Padang biasa memanggilnya dengan Aia Tajun atau Aia Mancua Lembah Anai. Air Terjun Lembah Anai yang terletak di jalur antara Kota Padang dan Kota Bukittinggi ini berjarak hanya sekitar 1 jam dari Bandara Internasional Minangkabau Padang. Lokasi Air terjun Lembah Anai tepat di pinggir jalan raya trans Sumatera. Di tengah hiruk pikuk bis antar kota yang melaju membelah hutan belantara nan rimbun di jalan yang berkelok, tersembunyi sebuah lukisan alam yang sangat indah bernama Lembah Anai. Entah darimana kata Lembah Anai berasal, namun keindahan air terjun alaminya telah membuat banyak wisatawan jatuh hati. Perpaduan antara gemericik air terjun dengan sungai kecil yang mengalir diantara rimbunan hutan belantara, menjadikan lukisan alam yang sangat sulit untuk dilupakan dari ingatan.
Hujan gerimis mengguyur ketika berkunjung ke tempat wisata air terjun ini, namun demikian tidak mengurangi kekaguman dan semangat saya untuk lebih mengeksplorasi pesona air terjun lembah anai. Suasana yang sejuk disertai kehadiran monyet-monyet liar dari balik rerimbunan hutan di sekitar air terjun, menambah suasana tempat wisata ini menjadi semakin menarik untuk dikunjungi.
Sekilas tentang air terjun lembah anai, ini merupakan salah satu kawasan konservasi cagar alam yang sangat dijaga keutuhan ekosistemnya dan menjadi kebanggaan bagi dunia pariwisata di Sumatera Barat. Dengan ketinggian air terjun sekitar 35 meter, air terjun lembah anai mempunyai keunikan tersendiri yaitu airnya yang jatuh agak memanjang dari atas sehingga terkesan berdiri tegak.
Apabila berkunjung ke Sumatera Barat, tidak lengkap rasanya apabila kita tidak mengunjungi objek wisata Lembah Anai ini. Tiket masuknya pun relatif murah hanya 1500 rupiah dan kita bisa menikmati keindahan alami air terjun dengan suasana pegunungan yang sejuk dan syahdu. Apabila anda menyukai wisata alam, tempat perkemahan pun tersedia terletak tidak jauh dari lokasi air terjun.
Purnama di Balik Jam Gadang
Senja telah mulai turun ketika petualangan wisata saya memasuki Kota Bukittinggi. Kota yang terkenal dengan para pujangga sastranya dan keelokan negerinya. Namun ada satu yang selalu terlintas dalam benak apabila mendengar kata Bukittinggi, Jam Gadang. Salah satu keunikan peninggalan bersejarah yang menjadi simbol khas dan trademark wisata di provinsi Sumatera Barat. Dalam sejarahnya jam gadang ini dibangun pada tahun 1926 oleh arsitek Yazin dan Sutan Gigi Ameh sang putra pribumi Sumatera Barat. Jam ini hadiah dari Ratu Belanda kepada Controleur yang merupakan sebutan Sekretaris Kota pada saat itu. Jam gadang dalam proses sejarahnya telah mengalami beberapa kali perubahan bentuk, ketika Belanda menduduki negeri ini bentuk jam bulat dengan patung ayam jantan bertengger diatasnya. Sedangkan pada masa pendudukan Jepang, bentuk ini berubah menyerupai sebuah klenteng. Kemudian saat kemerdekaan terjadi perubahan bentuk jam gadang menjadi ornamen khas Minang dengan atap bagonjong (serupa tanduk kerbau) berbentuk Rumah Gadang yaitu rumah adat Minangkabau.
Secara fisik Jam Gadang ini memiliki ketinggian sekitar 26 meter. Ada keunikan dari angka-angka romawi yang merupakan bagian dari jam gadang, yaitu apabila dalam angka romawi penulisan angka empat umumnya adalah IV, akan tetapi pada Jam Gadang ini angka romawi empat ditulis dengan simbol IIII. Konon menurut cerita mitos yang beredar di masyarakat, penulisan angka empat yang unik ini merupakan jumlah korban yang meninggal sebagai tumbal pada saat pembangunan monumen ini. Agak tidak masuk diakal mengingat Jam Gadang ini merupakan hadiah dari Ratu Belanda yang pembuatannya pun tidak dilakukan di Indonesia. Tapi ya begitulah cerita yang beredar di masyarakat.
Kebetulan hotel tempat saya menginap terletak tidak jauh dari lokasi Jam Gadang berada. Hanya melangkahkan kaki beberapa meter saja maka akan tibalah di Jam Gadang yang disekitarnya ramai dipenuhi oleh para pedagang kaki lima. Berbagai jajanan dan makanan khas kota padang dijajakan dengan harga yang relative sangat murah. Mulai dari Sate Padang, Rendang , Dendeng Balado, Ikan Sampadeh, hingga teh talulah atau teh telur yang menjadi minuman unik khas Sumatera Barat tersedia disini. Saya mencicipi sate Padang yang bumbunya berwarna agak kehijauan, berbeda dengan sate Padang yang biasa saya beli di Jakarta cenderung berwarna kecoklatan. Aroma dan rasanya pun hmmm lebih lezat sate Padang yang berada di Bukittinggi ini. Sambil menikmati bulan purnama yang bersembunyi di balik ornamen Jam Gadang bersama secangkir bandrek, saya pun menikmati hiruk pikuk anak muda kota Bukittinggi yang menghabiskan malam minggunya di sekitar lokasi wisata ini. Menurut keterangan penjual tempat saya membeli makanan, lokasi ini merupakan lokasi favorit untuk nongkrong kawula muda di kota Bukittinggi. Tidak heran beberapa muda mudi tampak mesra menghabiskan malam yang panjang ini diseputaran alun-alun Jam Gadang.
Malam semakin larut, bulan purnama pun semakin bersinar terang memancarkan cahayanya yang kemilau, akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke hotel tempat saya menginap dengan menggunakan delman yang memang banyak tersedia di lokasi wisata ini. Angin semilir kota Bukittinggi menusuk pori-pori kulit dengan sejuknya.
Permadani Hijau Ngarai Sianok
Ngarai Sianok merupakan sebuah lembah curam yang memanjang dan berkelok dari selatan Ngarai Kotogadang sampai di Ngarai Sianok Enam Suku, dan berakhir sampai daerah Palupuh, Agam. Ngarai yang memiliki pesona cantik ini memiliki kedalaman sekitar 100 meter membentang sepanjang 15 kilometer dengan lebar sekitar 200 meter. Patahan-patahan ngarai membentuk dinding yang curam, bahkan ada yang tegak lurus dan membentuk lembah yang hijau, hasil gerakan turunnya kulit bumi (sinklinal) di masa lalu. Di antara dua ngarai mengalir Sungai Batang Sianok berair jernih diantara hamparan persawahan menghijau dan perkebunan rakyat. Di zaman kolonial Belanda, jurang ini disebut juga sebagai kerbau sanget, karena banyaknya kerbau liar yang hidup bebas di dasar ngarai. Letak Ngarai Sianok tepat di kota Bukittinggi.
Ngarai Sianok yang sering juga disebut Grand Canyon of Indonesia bak lukisan menakjubkan berlatarkan Gunung Merapi dan Gunung Singgalang. Udara dingin disekitar Ngarai Sianok dikarenakan letaknya 900 meter di atas permukaan laut. Gemericik air yang berasal dari anak sungai yang mengalir di dasar ngarai, bagaikan menyimpan misteri masa silam. Keindahan pesona alam Ngarai Sianok membuat daerah ini ramai dikunjungi wisatawan lokal dan mancanegara serta menjadi salah satu andalan sektor pariwisata Sumatera Barat dan Indonesia.
Berjarak sekitar 500 meter dari panorama Ngarai Sianok, terdapat objek wisata Benteng Fort de Kock atau Goa Jepang. Lobang atau Goa Jepang ini suasananya sangat sunyi dan sedikit mencekam. Goa Jepang sebagai saksi bisu sejarah masa penjajahan Jepang dengan penderitaan rakyat Indonesia ketika itu seperti terlukis pada dinding Goa. Setelah menikmati suasana damai di Benteng Fort de Kock, kita dapat melintas jembatan Limpapeh yang menghubungkan benteng tersebut dengan kebun binatang Taman Puti Bungsu. Disini, kita selain dapat menikmati beraneka ragam fauna khas Indonesia, Anda juga dapat menyaksikan kerangka ikan paus yang cukup besar serta berbagai kerangka binatang langka lainnya yang terdapat di koleksi kebun binatang. Sambil memberi makan gajah atau monyet dengan kacang tanah, kita juga bisa menikmati kicau burung di tengah hiruk pikuk anak-anak yang sedang bermain-main di taman itu. (Bersambung – Hilda Perbatasari)
| Komentar |
|
3.20 Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|




















